Tampilkan postingan dengan label Mengingat PESANNYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengingat PESANNYA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2008

sedih, mulia, dan cinta

Bersedih dalam urusan duniawi, membuat hati menjadi gelap, sedangkan gelisah dalam urusan akhirat merupakan cahaya hati. (ustman r.a.)

Orang mulia tidak berani berbuat durhaka kepada Allah dan orang bijaksana tidak akan memprioritaskan urusan dunia atas akhirat (Yahya bin Mu’adz ra)


Barangsiapa yang modal utamanya taqwa, maka lidah menjadi tak kuasa menjelaskan keuntungan agamanya. Dan barangsiapa yang modal pokoknya dunia, maka mulutpun akan kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kerugian agamanya. (Al-A’masyi).


Cinta kepada Allah merupakan asas ma’rifat, sedangkan iffah adalah tanda yakin, sementara pangkal yakin adalah taqwa dan rela dengan takdir Allah. Muhammad SAW.


Barangsiapa cinta kepada Allah, berarti cinta kepada orang yang dicintai Allah, barangsiapa cinta terhadap orang yang dicintai Allah, berarti cinta perbuatan yang dilakukan karena cinta Allah, dan barangsiapa cinta terhadap perbuatan yang dilakukan karena cinta Allah, tentu dia cinta melakukan tanpa diketahui manusia. Sufyan bin Uyainah ra)

Selengkapnya......

Rabu, 19 Desember 2007

Tempat Ibadah Agama-agama

Q.S. Al Hajj (22:39-40).
39. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,
40. (yaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali Karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah Telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Mufradat (keys word) :
Samawi, plural dari sauma’ah (biara), bangunan memanjang dan puncaknya runcing, dimana orang-orang mendekatkan diri kepada Allah, menjauh dari hiruk pikuk dunia. Kebanyakkan dari pendeta-pendeta Nasrani.
Biya’un, plural dari bi’ah (gereja) tempat ibadahnya orang-orang Nasrani.
Salawat, plural dari salat, tempat ibadah orang Yahudi dikenal Sinagog.
Masjid, kata tempat (zaraf makan): tempat sujud, artinya merendahkan diri di hadapan yang berkuasa. Sholatnya orang islam merupakan gabungan dari cara sikap sujud agama-agama. Sebab masjid adalah tempat sujud atau ibadah secara umum.

Munasabah (correlation)
Turun di Madinah, berkorelasi dengan QS. 22:39. dalam hal ini Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi siapapun yang menyerang orang-orang Islam, karena mereka sudah teraniaya. PERANG dalam Islam dalam rangka membela diri (defensive-diserang bukan opensif-menyerang). Sekelumit Asbabunnuzul : memerangi para penguasa kafir Makkah yang sudah mengusir mereka dari tanah air kelahiran dan kehidupannya, karena tindakan kekerasan terhadap keyakinan atau karena berbeda keyakinan atau penafsiran terhadap teks agama. Peperangan ini tidak akan terjadi jika orang kafir Makkah menaati isi perjanjian Aqabah _10 tahun masing2 pihak harus menahan diri dari melakukan tindakan kekerasan yang didasarkan karena factor perbedaan agama_ alakhir, mereka (kafir Makkah) berkhianat, maka ultimatum itu muncul.

Kandungan ayat
Ayat 40 penjelasan dari 39, siapa saja diberi izin untuk pembelaan diri, Negara, harta agama dan kehormatan dengan melakukan tindakan apapun yang sesuai dan tidak melampaui batas untuk tujuan mempertahankan diri dari pihak lain.
Selain itu pun, memberikan kebebasan agama kepada manusia yang memeluk agama dan beribadah dengan tetap, agar menjaga kehormatan dan kesucian tempat-tempat ibadah tersebut. Dan mempertahankan serta melindungi tempat-tempat ibadah agama-agama seperti gereja, sianagog, klenteng dan masjid dari tindakan sewenang2 orang zalim yang datang dari pemeluk agama Islam.
Muhamamad ‘Ali –sebagaiamana di kutip dairi Syu’bah Asa- :
“Seharusnya kehidupan seorang Muslim tidak hanya dikorbankan utk menghentikan penganiayaan yang dilakkan kepadanya oleh musuh-musuhnya dan untuk memelihara masjid-masjid sendiri, melanikan juga dikorbankan untuk memelihara gereja-gereka, tempat persembahyangan Yahudi (sinagog) dan wihara-wihara. Pokoknya untuk menegakkan kemerdekaan menjalankan agama yang sempurna”.

Refleksi :
Setidaknya menjadi renungan bagi kita INDONESIA_ yang masyarakatnya beragam agama, budaya, ras, suku, dan etnis. Adalah kewajiban yang harus dijalanyakan dengan memberikan kebebasan dan kemerdekaan yang hakiki bagi setiap orang untuk beribadah menurut agamanya, saling toleransi dan menghormati, tidak saling memfitnah, tidak membakar (BOM) tempat ibadah2, dan menjaga rasa persatuan. Dan dari semua itu adanya tempat ibadah disesuaikan dengan ketentuan hukum yang berlaku. INDAH jika semua itu dijalankan, NASIOLISME menjadi kekuatan, DOA-nya terijabah, NEGARAnya rahmatan lil alamin, SIAPAPUN pasti ingin merasakannya. Mari berbuat sekarang, terlambat bukanlah jalan, action now…

Selengkapnya......

Senin, 17 Desember 2007

Six Type Human's

Menurut Ali Zainal Abidin, Cicit Rasulullah SAW jika dilihat dari sudut PERIKEBINATANGAN, ada enam tipe manusia, yaitu :

MANUSIA SINGA
Manusia penguasa di bumi yang ingin mengalahkan orang lain dan tak ingin terkalahkan oleh orang lain
MANUSIA SERIGALA
Pedagang yang mencela barang yang hendak dibelinya, sebaliknya memuji barang yang hendak dijualnya.
MANUSIA MUSANG
Orang yang ”menjual” ajaran atau gagasan demi kedudukan dan uang
MANUSIA ANJING
Suka ”menggonggong” (mengganggu) orang lain, sehingga dibenci orang lantaran ulahnya yang suka usil
MANUSIA BABI
Orang yang selau tidak menolak bila diseru kepada kejahatan, dan kalau istrinya diganggu orang .... ”tidak cemburu!”
MANUSIA KAMBING
Orang yang tertindas atau ”mudah dipermainkan”, ibaratnya bulunya diambil, dagingnya dimakan dan tulangnya pun dipisahkan.

Sementara menurut Al-Qur’an:
”manusia yang tidak mengindahkan aturan ilahi, maka perilakunya dapat dikatakan menyerupai bintang ternak (7:179)
Babi (5:60), kera/monyet (5:60), anjing (7:165), dan Keledai (62:5).

Selengkapnya......

Sabtu, 01 Desember 2007

:: Nasehat Ibnu Qayyim ::

“Apabila seorang mukmin menghendaki supaya Alloh menganugerahinya bashiroh (ilmu yang mendalam) di dalam agama, pengetahuan akan sunnah Rasul-Nya dan pemahaman akan kitab-Nya dan diperlihatkan hawa nafsu, bid’ah, kesesatan dan jauhnya manusia dari shirothol mustaqim, jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan para sahabatnya. Apabila ia menghendaki untuk menempuh jalan ini, maka hendaklah ia persiapkan dirinya untuk dicemooh oleh orang-orang bodoh dan ahlul bid’ah, dicela, dihina dan ditahdzir oleh mereka. Sebagaimana pendahulu mereka melakukannya kepada panutan dan imam kita Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Adapun apabila ia menyeru kepada hal ini dan mencemooh apa-apa yang ada pada mereka, maka mereka akan murka dan membuat makar kepadanya...
Sehingga dirinya menjadi orang yang :
Asing di dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka
Asing di dalam berpegangteguhnya ia kepada sunnah dikarenakan berpegangnya mereka dengan kebid’ahan
Asing di dalam aqidahnya dikarenakan rusaknya aqidah mereka
Asing di dalam sholatnya dikarenakan rusaknya sholat mereka
Asing di dalam manhajnya dikarenakan sesat dan rusaknya manhaj mereka
Asing di dalam penisbatannya dikarenakan berbedanya penisbatan mereka dengannya
Asing di dalam pergaulannya terhadap mereka dikarenakan ia mempergauli mereka di atas apa yang tidak disenangi hawa nafsu mereka
Kesimpulannya: ia adalah orang yang asing di dalam urusan dunia dan akhiratnya, yang masyarakat tidak ada yang mau menolong dan membantunya.
Karena dirinya adalah :
Seorang yang berilmu di tengah-tengah orang yang bodoh
Penganut sunnah di tengah-tengah pelaku bid’ah
Penyeru kepada Alloh dan Rasul-Nya di tengah-tengah penyeru hawa nafsu dan bid’ah
Penyeru kepada yang ma’ruf dan pencegah dari yang mungkar di tengah-tengah kaum yang menganggap suatu hal yang ma’ruf sebagai kemungkaran dan suatu hal yang mungkar sebagai ma’ruf.”
[dalam Madarijus Salikin (III/200)

Selengkapnya......